Friday, May 25, 2012

DIALOG SYI’AH


Dialog Ja’far al-Shiddiq dengan seorang Syi‘ah [3] ini menunjukkah kecintaan Beliau Kpd 3 Khalifah Awal dan Para Sahabat Rosulullah,,,
Dan Untuk membantah Semua Hadits Dari Literatur Syiah Yg Mengatasnamakan Beliau,,
Dan akan dituliskan pula rujukan2 dlm note ini, agar kita dapt melihatnya sendiri,,,
Seorang rawi [4] menuturkan bahawa ada seorang Syi‘ah mendatangi Ja’far bin Muhammad al-Shiddiq [5] Karramallah Wajha lalu segera mengucap salam: “Assalamu‘alaikum waRahmatullahi waBarakatuhu.” Ja’far terus menjawab salam tersebut.
DIALOG SYI’AH PERTAMA:
Syi‘ah tadi bertanya:. . . . Wahai putra Rasulullah, siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?
Ja’far al-Shiddiq menjawab:. . . . Abu Bakar ( radhiallahu ‘anh ).
Syi‘ah bertanya:. . . . Mana hujahnya dalam hal itu?
Ja’far menjawab:. . . . Firman Allah Ta‘ala :
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya Allah telahpun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Makkah) mengeluarkannya (dari negerinya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: “ Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita. ” Maka Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada ( Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera ( malaikat) yang kamu tidak melihatnya”. [al-Taubah 9 :40 ]
Ja’far melanjutkan: . . . Cuba fikirkan, apakah ada orang yang lebih baik dari dua orang yang nombor ketiganya adalah Allah ?? Tidak ada seorang pun yang lebih afdhal daripada Abu Bakar selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam . .
Maka Syi‘ah berkata: . . . Sesungguhnya ‘Ali bin Abu Thalib ‘alaihi salam telah tidur di tikar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ( demi menggantikannya dalam peristiwa hijrah) tanpa mengeluh ( jaza’ , ertinya tabah) dan tidak takut ( faza’ , ertinya ia tegar).
Maka Ja’far menjawab: . . . Dan begitu pula Abu Bakar, dia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa jaza’ dan faza’ . .
Syi‘ah menyanggah: . . Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah menyatakan berbeda dengan apa yang anda katakan !
Ja’far bertanya: . . . Apa yang difirmankan oleh Allah ??
Syi‘ah menjawab: … ketika ia berkata kepada sahabatnya: “ Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita” bukankah ketakutan tadi adalah jaza’ ??
Ja’far menjelaskan: . . . Tidak, kerana Huzn (sedih) itu bukan jaza’ dan faza’ .. Sedihnya Abu Bakar adalah khuatir jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dan agama Allah tidak lagi ditaati. Jadi kesedihannya adalah terhadap agama Allah dan terhadap Rasul Allah, bukan sedih terhadap dirinya. Bagaimana ( dapat dikatakan dia sedih untuk dirinya sendiri padahal) dia disengat lebih dari seratus sengatan dan tidak pernah mengatakan “His” juga (tidak pernah) mengatakan “Uh” (tidak mengerang kesakitan).
DIALOG SYI’AH KEDUA:
Syi‘ah berkata:  Sesungguhnya Allah Ta‘ala berfirman:
 إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya Penolong kamu hanyalah Allah, dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman, yang mendirikan sembahyang, dan menunaikan zakat sedang mereka rukuk”.[al-Maidah 5 :55 ]
Ayat ini turun berkenaan ‘Ali bin Abu Thalib ketika mensedekahkan cincinnya ketika dia sedang rukuk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya (ayat di atas) di dalam diriku dan Ahl al-Baitku.”[6]
Ja’far menjelaskan: Ayat yang sebelumnya lebih agung daripadanya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman ! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah dari agamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Ia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia”. [al-Maidah 5 :54 ]
dan Ternyata perbuatan riddah (murtad, keluar dari Islam) terjadi besar-besaran sepeninggalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . . . Orang-orang kafir itu tertumpu di Nahawand,,, mereka berkata: . . “Orang yang selama ini mereka bela (Rasulullah) kini telah wafat (maka tidak perlu lagi membayar zakat).”
Hingga ‘Umar radhiallahu ‘anh berkata (kepada Abu Bakar yang bertekad memerangi mereka):
“Terimalah solat dari mereka dan biarkan (maafkan) zakat bagi mereka.”,,
Maka dia (Abu Bakar) berkata:
“Demi Allah seandainya mereka menghalangiku (tidak mahu menyerahkan sekalipun) seutas tali (pengikat haiwan, yakni untuk zakat haiwan ternakan) yang dulu mereka membayarkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , , pasti aku memerangi mereka biarpun seorang diri.” [7] Maka ayat ini (al-Maidah 5 :54) lebih utama untuk Abu Bakar radhiallahu ‘anh . .
DIALOG SYI’AH KETIGA:
Syi‘ah tersebut melanjutkan hujahnya: Sesungguhnya Allah Ta‘ ala telah berfirman:
 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada waktu malam dan siang, dengan cara sulit atau terbuka” [al-Baqarah 2 :274 ].. Ayat ini turun berkenaan ‘Ali ‘alaihi salam .
Dia memiliki empat dinar, satu dinar dia nafkahkan pada malam hari, satu dinar dia nafkahkan pada siang hari, satu dinar secara sembunyi-sembunyi dan satu dinar secara terang-terangan. Maka turunlah ayat ini. [ 8]
Ja’far ‘alaihi salam menjelaskan: Abu Bakar memiliki yang lebih utama lagi di dalam Al-Quran.
Allah berfirman:
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى
“Demi malam apabila ia menyelubungi segala-galanya”. [al-Lail 92 : 01 ]
Ini adalah sumpah Allah.
وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا
“Dan siang apabila ia lahir terang-benderang” [al-lail 92:03]
“Demi Yang menciptakan (makhluk-makhluk-Nya) lelaki dan perempuan; Sesungguhnya amal usaha kamu adalah berbagai-bagai keadaannya.”
Jelasnya: adapun orang yang memberikan apa yang ada padanya ke jalan kebaikan dan bertaqwa; Serta ia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik. [al-Lail 92 :02-06 ],, Ini ialah Abu Bakar.
Maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesenangan. Ini ialah (bagi) Abu Bakar….
Dan akan dijauhkan (azab neraka) itu daripada orang yang sungguh bertaqwa. [al-Lail 92 :17 ],, Ini ialah Abu Bakar.
Yang mendermakan hartanya dengan tujuan membersihkan dirinya dan harta bendanya. [al-Lail 92 :18 ],, Ini ialah Abu Bakar.
Sedang ia tidak menanggung budi sesiapapun, yang patut di balas. [al-Lail 92 :19 ],, Ini ialah Abu Bakar…
Dia telah menafkahkan untuk (dakwah Rasulullah) sebanyak 40 ribu dinar sehingga baginda bersuka-cita. Kemudian turunlah Jibril ‘alaihi salam memberi khabar bahawa: “Allah yang Maha Tinggi dan Luhur memberikan salam untukmu ( wahai Rasulullah) dan Dia berkata ucapkan juga kepada Abu Bakar salam dari-Ku dan katakan kepadanya: Apakah engkau redha kepada Allah dalam kefakiranmu ini ataukah engkau tidak suka ?” Maka Abu Bakar menjawab: “Apa mungkin aku marah (tidak suka) kepada Rabb -ku ‘Azza wa Jalla ? Aku redha kepada Rabb -ku, aku redha kepada Rabb -ku, aku redha kepada Rabb -ku.”….. Dan Allah berjanji untuk meredhakannya.[9]
DIALOG SYI’AH KE 4:
Syi‘ah berhujah lagi:  Sesungguhnya Allah berfirman:
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Adakah kamu sifatkan hanya perbuatan memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan Haji, dan (hanya perbuatan) memakmurkan Masjid Al-Haram itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat serta berjihad pada jalan Allah ? Mereka (yang bersifat demikian) tidak sama di sisi Allah.” [al-Taubah 9 :19 ]
Ayat ini turun berkenaan ‘Ali ‘alaihi salam [10]
Ja’far ‘alaihi salam menjawab:
Abu Bakar memiliki sesuatu yang lebih afdal di dalam Al-Qur’an,, Allah berfirman:
وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Tidaklah sama di antara kamu, orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sebelum kemenangan ( menguasai Kota Mekah: Fath al-Mekah). Mereka itu lebih besar darjatnya daripada orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sesudah itu. Dan tiap-tiap satu puak dari keduanya, Allah janjikan (balasan) yang sebaik-baiknya. Dan ( ingatlah), Allah Maha Mendalam PengetahuanNya akan apa yang kamu kerjakan”. [al-Hadid 57 :10 ]
Abu Bakar adalah orang yang pertama kali menafkahkan hartanya untuk Rasulullah, orang yang pertama berperang dan yang pertama berjihad (yakni ketika) orang-orang musyrik datang memukul Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai berdarah. Ketika Abu Bakar mendengar berita itu dia terus berlari mendatangi mereka lalu berkata: “Celaka kalian ! Apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan Rabb -ku adalah Allah padahal dia telah membawa bukti-bukti yang jelas dari Tuhan kalian ?”
Maka mereka meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbalik memukul Abu Bakar sehingga tidak jelas antara hidung dan wajahnya [11]
Dia (Abu Bakar) adalah orang yang pertama berjihad di jalan Allah dan orang pertama yang berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , serta orang pertama yang menafkahkan hartanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
“Tidak ada harta yang bermanfaat untukku seperti manfaatnya harta Abu Bakar.”[12]
DIALOG SYI’AH KE 5:
Syi‘ah terus berhujah: Sesungguhnya ‘Ali tidak pernah menyekutukan Allah walau sekelip mata.
Maka Ja’far berhujah kembali:  Sesungguhnya Allah telah memuji Abu Bakar dengan pujian yang mencukupi dari segala sudut. Allah berfirman:
 وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Dan yang membawa kebenaran serta yang mengakui kebenarannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.[al- Zumar 39 :33 ]
Dan yang membawa kebenaran ialah Muhammad shallallahu ‘ alaihi wasallam , serta yang mengakui kebenarannya ialah Abu Bakar. Semua orang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (setelah peristiwa Isra’ dan Mi,raj): “Engkau dusta” sedangkan Abu Bakar, hanya dia yang berkata: “Engkau benar.” Maka turunlah ayat ini berkenaan dengannya: Ayat tashdiq ( pembenaran) secara khusus.
Maka Abu Bakar adalah orang yang taqwa ( taqiy ), bersih ( naqiy ) , yang diridhai ( mardhi ), yang ridha ( radhiy ), yang adil ( ‘adl ), penegak keadilan ( mu‘addil ) dan yang menepati perjanjian ( wafiy ) .
DIALOG SYI’AH KE 6:
Syi‘ah kemudian berkata: Sesungguhnya mencintai ‘Ali adalah fardhu menurut ketetapan Allah Ta‘ala :
ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak meminta kepada kamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” [al-Syura 42 :23 ] [13]
Ja’far menjawab: Bahawa Abu Bakar juga memiliki yang seumpama… Allah berfirman:
Dan orang-orang yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Wahai Tuhan Kami ! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami ! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan Rahmat-Mu.” [al-Hasyr 59 :10 ]
Abu Bakar terlebih dahulu membawa iman, maka meminta ampun untuknya adalah wajib dan mencintainya adalah fardhu serta membencinya adalah kufur.
DIALOG SYI’AH KE 7:
Syi‘ah berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hasan dan Husain keduanya adalah sayyid (pemuka) pemuda ahli syurga dan ayah mereka berdua lebih baik daripada keduanya.”[ 14]
Ja’far berkata kepadanya:  Bagi Abu Bakar di sisi Allah ada keutamaan yang melebihi itu.
Aku diberitahu oleh ayahku, daripada datukku, daripada ‘Ali bin Abu Thalib ‘alaihi salam , dia berkata: [15] Saya ada di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , tidak ada orang lain selain aku. Tiba-tiba muncullah Abu Bakar dan ‘ Umar radhiallahu ‘anhuma maka Nabi bersabda: “Hai ‘Ali ! Kedua orang ini adalah sayyid (pemuka) penduduk ahli syurga, yang tua maupun yang muda, yang telah lewat dan yang terdahulu dari generasi awal maupun yang tersisa dan yang tinggal dari generasi yang belakangan kecuali para Nabi. Jangan engkau beritahukan kepada keduanya wahai ‘Ali.” Maka aku (‘Ali) tidak memberitahukannya kepada siapa pun hingga keduanya tiada.
DIALOG SYI’AH KE 8:
Syi‘ah bertanya:  Manakah yang lebih utama, Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau ‘A’isyah binti Abu Bakar ???
Ja’far menjawab: (dengan membaca ayat): Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.. . Yasin; Demi Al-Quran yang mengandungi hikmat-hikmat dan kebenaran yang tetap kukuh. [Yasin 36 :01-02 ],, Ha-Mim; Demi Kitab Al-Quran yang menyatakan kebenaran. [al- Zukhruf 43 :01-02 ]
Syi‘ah kemudian berkata:  Aku bertanya kepadamu manakah yang lebih baik, Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataukah ‘A’isyah putri Abu Bakar, kenapakah kamu membaca Al- Quran ???
Ja’far menjawab:  ‘A’isyah putri Abu Bakar adalah isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ,,, dia akan bersamanya di syurga… Sedangkan Fathimah putri Rasulullah adalah sayyidah ( pemuka) wanita ahli syurga. Yang mencela isteri Rasulullah mudah-mudahan dilaknat oleh Allah Ta‘ala dan yang membenci putri Rasulullah mudah-mudahan dihina oleh Allah Ta‘ala .
Syi‘ah (tidak berpuas hati lalu) berkata:  ‘A’isyah telah memerangi ‘Ali dan dia adalah isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam !
Ja’far menjawab tegas: . . (Itu adalah) benar… (tetapi) celakalah kamu ! (Bukankah) Allah Ta’ala telah berfirman: . . Dan kamu tidak boleh sama sekali menyakiti (hati) Rasul Allah. [ al-Ahzab 33 :53 ] [16]
DIALOG SYI’AH KE 9:
Kemudian Syi‘ah bertanya:  Apakah kekhalifahan Abu Bakar, ‘ Umar dan ‘Utsman ada di dalam Al-Qur’an ??”
Ja’far menjawab: . . Ada, bahkan juga di dalam Taurat dan Injil…
Allah berfirman: . . Dan Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah di bumi dan meninggikan setengah kamu atas setengahnya yang lain beberapa darjat [al-An‘am 6:165]
Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang menderita apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghapuskan kesusahan, serta menjadikan kamu khalifah bumi? [al-Naml 27 :62 ]
Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal soleh dari kalangan kamu (wahai umat Muhammad) bahawa Ia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah yang memegang kuasa pemerintahan di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang- orang yang sebelum mereka: khalifah-khalifah yang berkuasa; dan Ia akan menguatkan dan mengembangkan agama mereka ( Islam) yang telah diredhaiNya untuk mereka. [al-Nur 24 :55] [17]
Syi‘ah meminta penjelasan: . . Wahai putra Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wasallam , lalu di manakah kekhalifahan mereka di (sebut) dalam Taurat dan Injil ??
Ja’far menjawab (dengan membaca firman Allah): . . Muhammad ialah Rasul Allah; dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir dan (sebaliknya) bersikap kasih sayang serta belas kasihan kasihan sesama sendiri (umat Islam). Engkau melihat mereka tetap beribadat rukuk dan sujud, dengan mengharapkan limpah kurnia (pahala) dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredhaanNya. Tanda yang menunjukkan mereka terdapat muka mereka – dari kesan sujud. Demikianlah sifat mereka yang tersebut di dalam Kitab Taurat; dan sifat mereka di dalam Kitab Injil. [al-Fath 48 :29 ]
Dan orang-orang yang bersama dengannya… ialah Abu Bakar.
Bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir… ialah ‘ Umar bin al-Khaththab.
Dan (sebaliknya) bersikap kasih sayang serta belas kasihan kasihan sesama sendiri (umat Islam)… ialah ‘Utsman bin ‘Affan.
Engkau melihat mereka tetap beribadat rukuk dan sujud dengan mengharapkan limpah kurnia dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredaan-Nya… ialah ‘Ali bin Abi Thalib…
Tanda yang menunjukkan mereka terdapat muka mereka – dari kesan sujud… ialah para sahabat Rasulullah.
Demikianlah sifat mereka yang tersebut di dalam Kitab Taurat; dan sifat mereka di dalam Kitab Injil.
Syi‘ah bertanya lagi: . . . Apakah yang dimaksud dalam Taurat dan lnjil ?
Ja’far menjawab: . . Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafa’ sesudahnya: Abu Bakar, ‘Umar, ‘ Utsman dan ‘Ali.
Kemudian Ja’far menepuk dada Syi‘ah itu dan berkata: . . Allah Ta‘ ala berfirman (dengan membaca sambungan ayat 29 surah al- Fath): . . Seperti pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunasnya itu menyuburkannya, sehingga ia menjadi kuat, lalu ia tegap berdiri di atas (pangkal) batangnya dengan keadaan yang mengkagumkan orang-orang yang menanamnya. (Allah menjadikan sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w dan pengikut-pengikutnya kembang biak serta kuat gagah sedemikian itu) kerana Ia hendak menjadikan orang-orang kafir merana dengan perasaan marah dan hasad dengki – dengan kembang biaknya umat Islam itu. (Dan selain itu) Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal salih dari mereka, keampunan dan pahala yang besar [al-Fath 48 :29 ]
Seperti pokok tanaman yang mengeluarkan anak dan tunasnya, lalu anak dan tunasnya itu menyuburkannya… ialah Abu Bakar..
Sehingga ia menjadi kuat… ialah ‘Umar.
Lalu ia tegap berdiri di atas (pangkal) batangnya… ialah ‘Utsman bin ‘Affan.
Dengan keadaan yang mengkagumkan orang-orang yang menanamnya kerana Ia hendak menjadikan orang-orang kafir merana dengan perasaan marah dan hasad dengki – dengan kembang biaknya umat Islam itu… ialah ‘Ali bin Abi Thalib.
Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal salih dari mereka, keampunan dan pahala yang besar… ialah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Semoga Allah meredhai mereka,
sungguh celakalah kamu ! Aku diberitahu oleh ayahku, daripada datukku, daripada ‘Ali bin Abi Thalib, bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: . . . Aku adalah orang yang pertama bangkit dari bumi dan tidak ada kesombongan. Allah memberi kemudahan kepadaku dari hal-hal yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Kemudian Dia memanggil: “Dekatkan para khulafa’ sesudahmu.” Maka aku berkata, “Ya Rabb ! Siapakah khulafa’ itu ?” Maka Dia berkata: “ ‘Abd Allah bin ‘Utsman Abu Bakar al-Shiddiq.” Maka orang yang pertama keluar dari tanah setelahku ialah Abu Bakar. Dia kemudian didirikan di hadapan Allah Ta‘ala untuk dihisab dengan hisab yang ringan sekali (hisaban yasiran) kemudian dia diberi pakaian sutera berwama hijau lalu didirikan di depan al-‘ Arasy. Kemudian ada panggilan: “Mana ‘Umar bin al-Khaththab ?” Datanglah ‘Umar dengan urat-urat leher yang masih mengalirkan darah. Dia bertanya: “Siapa yang telah berbuat seperti ini kepadamu?” ‘Umar menjawab: “Budak Mughirah bin Syu’bah.” Dia kemudian didirikan di hadapan Allah lalu dihisab dengan hisab yang sangat ringan dan diberi pakaian sutera berwarna hijau lalu didirikan di depan al-‘Arasy. Kemudian didatangkan ‘Utsman bin ‘Affan dengan urat-urat leher yang mengalirkan darah. Dia ditanya: “Siapa yang telah berbuat ini kepadamu ?” Maka dia menjawab: “Fulan dan fulan.” Dia didirikan di hadapan Allah lalu dihisab dengan hisab yang ringan kemudian diberi pakaian sutera berwarna hijau lalu didirikan di depan al-‘Arasy. Kemudian dipanggil ‘Ali bin Abu Thalib. Dia datang dengan urat- urat leher yang mengalirkan darah. Dia ditanya: “Siapa yang berbuat ini kepadamu ?” Maka ‘Ali menjawab: ‘Abd al-Rahman bin Muljam.” Dia didirikan di hadapan Allah Ta‘ala dan dihisab dengan hisab yang ringan kemudian diberi pakaian sutera berwarna hijau dan didirikan di depan al-‘Arasy.
Syi‘ah tadi bertanya sekali lagi: . . . Apakah semua ini ada di dalam al-Qur’an wahai putra Rasulullah ??
Ja’far menjawab: . . Ya ! Allah berfirman: . . . Dan akan dibawa Nabi-nabi serta saksi-saksi dan akan dihakimi di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dikurangkan balasannya sedikitpun [al-Zumar 39 :69 ]
Dan akan dibawa Nabi-nabi serta para saksi… ialah Abu Bakar, ‘ Umar, ‘Utsman dan ‘Ali (di mana) … akan dihakimi di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dikurangkan balasannya sedikitpun.
DIALOG SYI’AH TERAHIR:
Akhirnya Syi‘ah tadi bertanya: . . Wahai putra Rasulullah, apakah Allah masih mahu menerima taubat saya dari dosa-dosa saya yang telah memisahkan antara Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘ Ali ?”
Ja’far menjawab: . . Tentu, pintu taubat selalu terbuka maka perbanyaklah istighfar untuk mereka. Adapun jika sekiranya kamu mati dalam keadaan menyalahi mereka maka kamu pasti mati di atas dasar selain fitrah Islam dan amal-amal kamu seperti amalan-amalan orang kafir – akan sirna tak tersisa.
(Peraawi menerangkan): . . Akhirnya orang tadi bertaubat meninggalkan ucapan buruknya dengan taubat nashuha…
Sekian dialog antara Ja’far al-Shiddiq radhiallahu ‘anh dengan seorang Syi‘ah . Jelas terdapat perbezaan iktikad antara beliau dengan Ja’far al-Shiddiq yang merupakan salah seorang imam Ahl al-Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .
Semoga dialog ini dapat memberi keinsafan kepada ahli-ahli Syi‘ ah masa kini.
Sesiapa yang membacanya dengan fikiran yang terbuka akan dengan mudah mengetahui ketepatan Ja’far al- Shiddiq radhiallahu ‘anh dalam mengemukakan ayat dan hadis sebagai dalil dan kecerdasan beliau dalam menghujahkannya sebagaimana di atas….
Sehingga tidak mungkin dapat diragui atau ditolak lagi..
Oleh itu hendaklah ahli-ahli Syi‘ah masa kini yang mendakwa diri mereka sebagai penyokong dan pengikut Mazhab Ahl al-Bait mengkaji semula iktikad mereka secara jujur dan ikhlas… Antara caranya ialah terus membaca dan mengkaji buku ini, mudah- mudahan dengan izin Allah akan terserlah antara yang benar dan yang salah…

Wednesday, December 21, 2011

TAKRIF USUL FIQH

Menggali hukum syariah daripada sumber-sumbernya tidak boleh dilakukan dengan sesuka hati berdasarkan kepada hawa nafsu tetapi hendaklah berdasarkan kepada metod-metod yang tertentu seperti yang dijalani oleh para mujtahid.Dengan cara itu barulah sesuatu ijtihad itu dapat diterima.

Adalah ilmu yang membicarakan tentang sumber-sumber hukum dan kehujahannya,mertabat-mertabat pendalilannya,syarat-syaratnya,kaedah-kaedah pengambilannya dan sebagainya itulah yang dinamakan sebagai ilmu usul fiqh.Berkata Ibnu Khaldun “Ilmu usul fiqh itu adalah salah satu daripada sebesar-besar ilmu syar’iyah,yang sangat nyata nilainya dan sangat banyak faedahnya” (Muqaddimah Ibnu Khaldun hlm 452)

TAKRIF ILMU USUL FIQH

Perkataan usul adalah berasal dari bahasa Arab yaitu merupakan kalimah jamak(plural) bagi perkataan “Asal” yang bererti asas bagi sesuatu.Adapun pada istilah ulama, kalimah “Asal” tersebut mengandungi beberapa makna berdasarkan kepada bebrapa penggunaan.Di antaranya ialah:

1)Bererti dalil.Seperti apabila dikatakan “Asal masalah ini adalah ijmak” bermakna dalil bagi masalah tersebut adalah berdasarkan kepada dalil ijmak.Makna inilah yang digunakan bagi perkataan usul fiqh.

2)Bererti “Yang Rajih” (yang paling tepat).Seperti apabila dikatakan “Asal bagi sesuatu perkataan hendaklah berdasarkan kepada ertinya yang harfiah” Bermakna yang paling tepat bagi memahamkan sesuatu perkataan itu hendaklah didahulukan kepada makna harfiahnya dan bukan makna kiasannya kecuali jika ada dalil lain yang menunjukkan sebaliknya.Begitu juga jika dikatakan “Al Quran adalah asal jika dibandingkan dengan kias” Bermakna dalil Al Quran itu adalah lebih rajih dan lebih tepat dan hendaklah didahulukan berbanding dengan dalil daripada kias.

3)Bererti kaedah.Seperti apabila dikatakan “Keharusan memakan bangkai bagi orang yang dharurat itu adalah menyalahi asal” Bermakna menyalahi kaedah umum bagi orang yang biasa.

4)Bererti permulaan hukum yang mula berlaku.Seperti apabila dikatakan “Asal bagi seseorang itu ialah tidak mempunyai tanggungan” Bermakna permulaan yang mula berlaku bagi setiap orang ialah bebasnya mereka dari sebarang tanggungan sehinggalah ada dalil lain yang menunjukkan sebaliknya.

Adapun perkataan “Fiqh” dari segi bahasa bererti ilmu dan kefahaman tentang sesuatu.Perkataan fiqh yang digunapakai dalam Al Quran pula tidak semata-mata merujuk kepada ilmu malah merujuk kepada kefahaman yang teliti,tanggapan yang tajam dan mengetahui tujuan percakapan.Contohnya seperti firman Allah:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرً‌ا مِّمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَ‌اكَ فِينَا ضَعِيفًا ۖ وَلَوْلَا رَ‌هْطُكَ لَرَ‌جَمْنَاكَ ۖ وَمَا أَنتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ

Ertinya: Mereka berkata: "Wahai Syuaib,! kami tidak mengerti kebanyakan dari apa yang engkau katakan itu, dan sesungguhnya kami melihat engkau orang yang lemah dalam kalangan kami; dan kalau tidaklah kerana kaum keluargamu, tentulah kami telah melemparmu (dengan batu hingga mati). Dan engkau pula bukanlah orang yang dipandang mulia dalam kalangan kami!". (Hud 11:91)

FirmanNya lagi:

فَمَالِ هَـٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Ertinya: Maka apakah yang menyebabkan kaum itu hampir-hampir tidak memahami perkataan (nasihat dan pengajaran)? (An Nisa 4:78)

Adapun perkataan fiqh pada istilah ulama yaitu ilmu tentang hukum-hukum syarak yang bersifat amali(perbuatan) yang dapat diusahakan daripada dalil-dalil yang tafsiliah (terperinci).Atau:(Dapat juga dikatakan) Bahawa fiqh adalah hukum-hakam itu sendiri.

Adapun makna hukum itu ialah menetapkan sesuatu kepada sesuatu yang lain samada ditetapkan kepada ya atau tidak.Seperti kita katakan “Matahari itu terbit” atau “Matahari itu tidak terbit” Contoh lain “Air itu panas” atau “Air itu tidak panas”. Dan hukum yang dimaksudkan di dalam perbincangan kita di sini ialah hukum tentang perbuatan seseorang mukallaf samada wajib,sunat,haram,makruh , harus, sah,fasad(rosak) atau batal.

Dikhususkan hukum itu sebagai hukum syarak apabila dalil-dalilnya diambil daripada sumber-sumber syarak samada secara langsung atau tidak langsung.Maka tidak termasuk dalam perbincangan kita di dalam hal ini misalnya hukum akal seperti menghukumkan bahawa “Keseluruhan itu lebih besar daripada sebahagian” atau “Satu itu adalah separuh daripada dua” atau “alam ini diciptakan” dan sebagainya.Tidak termasuk juga hukum yang diambil daripada pancaindera seperti menghukumkan bahawa “api itu panas”.Dan tidak termasuk juga hukum yang bersumberkan percubaan seperti menghukumkan “Racun itu dapat membunuh” Malah tidak termasuk juga hukum yang ditetapkan berdasarkan kaedah bahasa seperti menghukumkan bahawa isim kaana yang tunggal itu itu dibariskan dhommah dan khabarnya dibariskan atas seperti yang diketahui melalui kaedah bahasa Arab.

PENGERTIAN USUL FIQH DARI SEGI ISTILAH

Pengertian usul fiqh dari segi istilah itu ialah ilmu tentang kaedah-kaedah dan dalil-dalil yang bersifat umum yang digunakan bagi menginstimbat dan menggali hukum fiqah.Kaedah adalah premis umum yang digunakan untuk diterapkan ke atas masalah-masalah yang khusus.Sebagai contoh:Kaedah yang berbunyi “Setiap perintah menunjukkan kepada hukum wajib melainkan jika ada qarinah (sebab) yang menunjukkan sebaliknya” Jadi semua lafaz AlQuran dan hadis yang yang datang dengan lafaz perintah (fiil amar) maka ianya adalah dihukumkan wajib untuk dilaksanakan.Misalnya:

1)Firman Allah Taala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

Ertinya: Wahai orang-orang yang beriman, sempurnakanlah perjanjian-perjanjian. (Al Maidah 5:1)

2)Firman Allah Taala:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّ‌سُولَ

Ertinya: Dan dirikanlah kamu akan sembahyang serta berilah zakat; dan taatlah kamu kepada Rasul Allah (An Nur 24:56)

Berdasarkan kepada kaedah “Setiap perintah menunjukkan kepada hukum wajib” Kita mengetahui dari kedua-dua ayat di atas bahawa menyempurnakan perjanjian,mendirikan sembahyang,mengeluarkan zakat dan taat kepada Rasul itu hukumnya wajib kerana telah datang kepada kita dalam bentuk perintah (fiil amar).

Contoh lain:Kaedah yang berbunyi “Setiap larangan menunjukkan kepada hukum haram melainkan jika ada qarinah yang menunjukkan sebaliknya” Jadi semua lafaz Al Quran dan hadis yang datang dengan lafaz larangan (Nahi) itu adalah menunjukkan kepada hukum haram.Misalnya:

1)Firman Allah Taala:

وَلَا تَقْرَ‌بُوا الزِّنَىٰ

Ertinya: Dan janganlah kamu menghampiri zina (Al Isra 17:32)

2)Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

Ertinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan (gunakan) harta-harta kamu sesama kamu dengan jalan yang salah (An Nisa 4:29)

Berdasarkan kepada kaedah “Setiap larangan menunjukkan kepada hukum haram” Kita mengetahui dari kedua-dua ayat tersebut bahawa melakukan zina dan memakan harta orang lain dengan jalan yang salah itu adalah haram hukumnya.

Yang dimaksudkan dengan dalil-dalil ijmali ialah sumber-sumber hukum syariah itu sendiri iaitu Al Quran,sunnah,ijmak dan kias.Mengenal dalil-dalil ijmali ini bererti mengetahui tentang kehujjahannya,mertabatnya dalam pendalilan,cara-cara pendalilan,pengertian ijmak dan syarat-syaratnya,jenis-jenis kias dan kecacatannya disamping mengenal akan kecacatan tersebut dan lain-lain.

Seorang ulama usul (usulfiqh) membahaskan tentang dalil-dalil ijmal ini bagaimana sesuatu dalil ijmal itu dapat menunjukkan kepada hukum syarak yang diambil daripada dalil juz’i.Adapun seorang faqih (ulama fiqh) pula membahaskan tentang dalil-dalil juz’iah bagi menggali hukum –hakam yang bersifat juz’I berdasarkan kepada kaedah-kaedah usuliah disamping perlu mengetahui dalil-dalil ijmali dan perbahasannya.

Rujukan:Al Wajiz Fii Usulil Fiqh(Dr Abdul Karim Zaidan)


Monday, December 19, 2011

FADHILAT MAHABBAH (MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA MAKHLUK)

Telah bersabda RasuluLlah sallaLlahu alaihi wasallam:

إن الله يقول يوم القيامة أين متحابون بجلالي اليوم أظلهم في ظلي يوم لا ظل إلا ظلي

Ertinya:Sesungguhnya Allah berfirman:Di manakah orang-orang yang saling kasih mengasihi kerana kebesaranKu.Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di hari yang tidak ada naungan melainkan naunganKu.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah radhiaLlahu anhu daripada Nabi sallaLlahu alaihi wasallam sesungguhnya seorang lelaki menziarahi seorang lelaki lain yang tinggal di dalam sebuah kampung.Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk mengintainya dalam perjalanan.Malaikat itu telah bertanya kepada lelaki itu “Ke manakah engkau hendak pergi?” Jawab lelaki itu “Aku hendak pergi menziarahi saudaraku di kampung ini” Malaikat itu berkata “Adakah engkau mempunyai apa-apa kepentingan?” Jawab lelaki itu “Tidak!Melainkan aku mengasihinya kerana Allah” Lalu malaikat itu berkata “Aku adalah utusan Allah kepadamu.Sesungguhnya Allah telah mengasihi engkau sebagaimana engkau mengasihi saudaramu” Muaz bin Jabal mengatakan aku dengar RasuluLlah sallaLlahu alaihi wasallam bersabda sesungguhnya Allah telah berfirman “Wajib mendapat kasih sayangKu bagi dua orang yang berkasih sayang kerana Aku , duduk bersama kerana Aku dan saling ziarah- menziarahi kerana Aku” Di dalam suatu riwayat bahawa Allah telah berfirman “Orang-orang yang berkasih sayang demi kebesaran Ku akan mendapat mimbar-mimbar yang diperbuat daripada cahaya yang turut diidam-idamkan oleh para nabi dan orang-orang yang mati syahid”

Sepatutnyalah bagi tiap-tiap orang yang berakal untuk berusaha saling mengasihi kerana Allah supaya mendapat pangkat orang yang muqarrabin dan mendapat kurnia seperti yang telah dikurniakan kepada wali-wali Allah.Mereka semua telah meninggalkan dunia ini dan hanya sibuk dengan mengingati Allah.Kata Zun Nun Al Misri rahimaLlahu ta’ala “Wahai Tuhanku!Tidak baik dunia ini bagiku melainkan dengan mengingatiMu ,tiada baik akhirat itu melainkan rahmatMu dan tiada baik syurga itu melainkan dengan memandang wajahMu” Telah berkata Rabi’ah Al Adawiah “Hilanglah segala bintang dan telah tidurlah segala mata.Para raja telah mengunci pintu-pintu mereka.Tetapi pintu Engkau tetap terbuka.Wahai TuhanKu!Semua bahagianku di dunia ini Engkau berilah kepada sekelian orang-orang kafir.Semua bahagianku di syurga Engkau berikanlah kepada sekelian orang yang derhaka dari kalangan orang-orang yang beriman.Sesungguhnya aku tidak berkehendak kepada dunia dan akhirat melainkan memandang kepada wajahMu”

Dihikayatkan bahawasanya Nabi Ilyas alaihissalam suatu hari telah didatangi oleh malaikat maut untuk mengambil nyawanya.Baginda terkejut dengan amat sangat lalu menangis.Allah telah mewahyukan kepada malaikat maut “Tanyakanlah kepada hambaKu mengapakah dia terkejut dan menangis?Adakah atas dunia atau atas mati?”.Nabi Ilyas menjawab “Bukanlah terkejutku kerana dunia atau takut kepada mati.Tetapi aku aku takut luput dari zikruLlah kerana aku tidak dapat lagi berhimpun dalam majlis-majlis mengingati Allah” Lalu Allah mewahyukan kepada malaikat maut “Tinggalkanlah hambaKu itu.Ia mencintai hidup kerana hendak mengingatiKu.Oleh itu biarkanlah dia hidup untuk mengingatiKu dan dan biarkanlah dia bermain-bermain di dalam ‘Taman Munajat’ hingga akhir dunia ini” Itulah sebabnya dikatakan bahawa Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas hidup hingga sekarang dan keduanya berjalan diseluruh dunia timur dan barat untuk mencari majlis-majlis zikir yang mengingati Allah.

Firma Allah Taala;

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ

Ertinya: Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu.(Ali Imran 3:31)

Adalah asal mahabbah(mencintai Allah ) itu ialah dengan mengikuti rasulNya dan jikalau tidak mengikuti RasulNya maka adalah mahabbahnya itu dusta.Telah kasih Khadijah akan RasuluLlah lalau memperoleh makrifat.Zulaikhah mengasihi Yusuf lalu memperoleh petunjuk.Balqis mengasihi Sulaiman lalu mendapat Islam.Abu Bakar mengasihi RasuluLlah lalu mendapat pangkat siddiq.Adalah nabi Musa alaihissalam suatu hari berkata “Akulah orang yang dagang!Akulah orang yang fakir!Akulah orang yang sakit!” Lalu Allah berfirman “Wahai Musa!Orang yang dagang itu tiadalah baginya kekasih seumpamaKu.Orang yang fakir itu tiadalah baginya seumpamaku Yang Memperkenankan dan orang yang sakit tiadalah seumpamaKu tabibnya” Disebutkan di dalam sebuah hadis Rasulullah sallaLlahu alaihi wasallam telah bertanya kepada para sahabat “Apakah iman yang paling dijunjungkan?” Para sahabat ada yang menjawab iman para malaikat,ada yang menjawab iman para nabi dan ada yang menjawab iman para sahabat nabi.Lalu RasuluLlah sallaLlahu alaihi wasallam bersabda “Itulah iman umatku yang datang selepasku .mereka percaya kepadaku walaupun tidak melihat daku dan tidak mendengar perkataanku itulah iman yang paling ajaib”

Adalah dikatakan bahawa sesungguhnya orang-orang kafir apabila ditimpa bala dan kesusahan mereka akan meninggalkan segala sembahan-sembahan mereka.Adapun orang-orang yang beriman apabila mendapat kesusahan dan cubaan daripada Allah akan semakin kasihlah mereka kepada Allah.Yusuf ibu Asbath menceritakan bahawa suatu hari dia telah pergi ke negeri Syam dan telah melihat seorang yang dianggap oleh orang ramai sebagai orang gila sedang terbelenggu dengan rantai.Ketika orang itu melihat kepada Yusuf dia berkata “Wahai Yusuf!Tidakkah redha TuhanMu,dengan sebab kasihku kepadNya ditanggalkannya akalku dan dengann sebab kasihku kepadaNya sehingga dirantai akan daku.Katakanlah kepadaNya jikalaulah dikerat tubuhku sepotong demi sepotong tidaklah bertambah bagiku melainkan kasih” Kemudian dia berpaling dan menangis seraya mengatakan “Wahai orang yang bersungguh-sungguh dengan perkataannya!Jadilah ia bersungguh-sungguh di dalam kasih itu menyebut akan mulanya.Dan tiadalah kasih itu dianggap benar dan ikhlas sehinggalah dianggap segala bala itu ain nikmatnya”

Adalah mertabat kasih itu ada lima.Pertama sofwah(pilihan) ,kedua khullah(kesayangan) ,ketiga qurbah(damping) , keempat nikmah dan kelima mahabbah(cinta).Adalah sofwah itu bagi Adam kerana sesungguhnya Allah telah memilih baginda seperti firmanNya:

إِنَّ اللَّـهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ

Ertinya: Sesungguhnya Allah telah memilih Nabi Adam (Ali Imaran 3:33).

Khullah itu bagi Nabi Ibrahim seperti firman Allah:

وَاتَّخَذَ اللَّـهُ إِبْرَ‌اهِيمَ خَلِيلًا

Ertinya: dan (kerana itulah) Allah menjadikan Nabi Ibrahim kesayanganNya.(An Nisa 4:125)

Qurbah itu bagi Nabi Musa seperti firman Allah:

وَنَادَيْنَاهُ مِن جَانِبِ الطُّورِ‌ الْأَيْمَنِ وَقَرَّ‌بْنَاهُ نَجِيًّا

Ertinya: Dan Kami telah menyerunya(Musa) dari arah sebelah kanan Gunung Tursina, dan Kami dampingkan dia dengan diberi penghormatan berkata dengan Kami. (Maryam 19:25)

Nikmah itu bagi Nabi Isa seperti firman Allah:

إِذْ قَالَ اللَّـهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْ‌يَمَ اذْكُرْ‌ نِعْمَتِي عَلَيْكَ

Ertinya: (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Wahai Isa ibni Maryam! Kenanglah nikmatKu kepadamu (Al Maidah 5:110)

Mahabbah itu bagi Nabi Muhammad sallaLlahu alaihi wasallam seperti firman Allah:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ

Ertinya: Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu (Ali Imran 3:31)

Adalah makhluk itu terbahagi tujuh:

1)Barangsiapa yang mengikut hawa akan memperoleh keterputusan daripada rahmat Allah.

2)Barangsiapa yang mengikut nafsu akan memperoleh menyesal.

3)Barangsiapa yang mengikut syaitan akan memperoleh neraka.

4)Barangsiapa yang mengikut syahwat akan memperoleh sia-sia.

5)Barangsiapa yang mengikut fir’aun akan memperoleh tenggelam di dunia dan azab di akhirat.

6)barangsiapa yang mengikut makhluk akan memperoleh menyesal

7)Barangsiapa yang mengikut Rasul akan memperoleh kasih.Firman Allah:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ

Ertinya: Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu (Ali Imran 3:31)

Ditanya Siti Maryam binti Imran “Mengapakah engkau tidak berkahwin?” Dia menjawab “Kerana lidahku sibuk menyebut namaNya,anggotaku sibuk berkhidmat kepadanya dan hatiku sibuk dengan mencintaiNya.Jika aku berkahwin nescaya lidahku terganggu daripada menyebut namaNya dan anggotaku terganggu daripada berkhidmat kepadaNya dan hatiku terganggu daripada mencintaiNya” Lalu Allah Taala mengurniakannya anak tanpa melalui suami yaitu Nabi Isa alaihissalam dan mengurniakan rezeki tanpa melalui asbab.Setiap kali Nabi Zakaria masuk ke dalam mihrabnya didapatinya telah tersedia rezeki.

Diceritakan oleh Abi AbduLlah bahawa suatu masa dia tinggal di Mekah lalu datanglah seorang pemuda kepadanya dan berkata “Wahai Ustaz!Jikalau ditakdirkan aku meninggal nanti engkaulah yang menguruskan jenazahku” Selepas beberapa lama pemuda itu pun meninggal dunia maka datanglah seorang lelaki kepada Abi AbduLlah memberitahunya bahawa pemuda itu telah pun meninggal dunia.Abi AbduLlah pun pergilah menguruskan dan memandikan jenazahnya.Ketika beliau hendak mengkafankan jenazahnya tiba-tiba pemuda itu membukakan dua matanya sambil tersenyum.Abu AbdiLlah pun berkata “Adakah engkau ini hidup atau mati?” Pemuda itu menjawab “Wahai Ustaz!Tidakkah engkau tahu kekasih-kekasih Allah itu tidak mati.Hanya berpindah kekasih kepada kekasihnya jua seperti firmanNya إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ (apabila Ia menyeru kamu kepada perkara-perkara yang menjadikan kamu hidup sempurna-Al Anfal 8:24)”

Adalah diceritakan seorang lelaki telah membeli seorang sahaya.Sahaya tersebut berkata kepadanya “Wahai tuanku!Aku bersedia menjadi hambamu dengan tiga syarat.Yang pertama jangan engkau menghalang aku daripada sembahyang fardu apabila masuk waktunya.Yang kedua engkau bebas untuk menyuruh aku apa saja pada waktu siang tetapi engkau tidak boleh mengganggu aku pada waktu malam.Yang ketiga hendaklah engkau sediakan bagiku suatu tempat untuk diriku yang tidak boleh sesiapa pun masuk.” Lalu berkatalah lelaki itu “Baiklah,aku terima syarat-syarat itu” Lelaki itu pun menyuruh sahayanya supaya memilih suatu tempat di kawasan rumahnya untuk dia tinggal.Kebetulan di sana ada sebuah rumah yang telah roboh lalu sahaya itu memilih rumah roboh tersebut sebagai tempat tinggalnya.Lalu lelaki itu berkata “Wahai sahaya!Mengapa engkau memilih rumah yang telah roboh?” Lalu dijawabnya “Wahai tuanku!Engkau tidak mengetahui bahawa rumah roboh ini bagiku seumpama taman”.Kemudian adalah sahaya itu berkhidmat kepada tuannya di waktu siang dan di malam hari pula dia beribadat kepada Allah sepanjang malam.Kebetulan pada suatu malam lelaki yang empunya sahaya itu mengadakan pesta minuman keras bersama sahabat-sahabatnya sehingga berlalu separuh malam pesta itu selesai dan para sahabatnya pulang ke rumah masing-masing.Lelaki itu pun berjalan-jalan di kawasan perkarangan rumahnya dan akhirnya sampai di tempat sahaya itu sedang beribadat.Lalu terlihatlah kepadanya sahayanya itu sedang sujud sedangkan di kepalanya terdapat lampu yang terang yang tergantung dari atas langit.Ketika itu dia mendengar sahayanya itu bermunajat dengan mengatakan “Wahai Tuhanku!Kalaulah tidak kerana Engkau telah mewajibkan aku untuk berkhidmat kepada tuanku sudah tentu siang dan malam aku hanya berkhidmat dan beribadat kepadaMu.Maafkanlah daku wahai Tuhanku!”.Lelaki itu terus-menerus melihat segala yang dilakukan oleh sahayanya sampailah ke waktu subuh.Apabila masuk sahaja waktu subuh,terangkatlah lampu yang tergantung di atas kepala sahayanya itu naik ke langit dan rumah tempat sahayanya itu beribadat jadi roboh semula seperti sediakala.Lelaki tuanpunya hamba itu menceritakan apa yang dilihatnya kepada isterinya.Pada malam yang berikutnya dia membawa isterinya untuk sama-sama menyaksikan apa yang telah dilihatnya dan mereka sama-sama menyaksikan sambil menangis hingga ke waktu subuh.Pada waktu siangnya mereka memanggil sahaya tersebut dan berkata kepadanya “Engkau kami merdekakan kerana Allah supaya engkau dapat menggunakan sepenuh masamu untuk beribadat kepadaNya” Mereka juga turut menceritakan apa yang telah mereka lihat sebelum itu.Lalu sahaya itu mengangkat dua tangannya ke langit sambil berkata “Wahai Tuhan yang mempunyai rahsia!Rahsianya telah nyata maka aku tidak lagi berkehendak untuk terus hidup apabila telah nyata rahsianya.Wahai Tuhanku!Aku pohonkan Dikau supaya Engkau bukakan rahsiaku dan jangan Engkau nyatakan halku.Apabila telah Engkau nyatakan halku maka ambillah aku ke hadhratMu” Lalu sahaya itu pun tertunduk dan langsung keluarlah rohnya.Adalah tanda-tanda orang yang mengasihi Tuhan itu ialah makannya seperti makan orang yang sakit,tidurnya seperti tidur orang yang tenggelam dan menangisnya seperti menangis orang yang rindu yang tidak mengeluarkan bunyi.

SUMBER:JAM'UL FAWAID WA JAWAHIRUL QALAID OLEH SYAIKH DAUD BIN ABDULLAH AL FATTANI

Saturday, December 17, 2011

FADHILAT BASMALAH

Nabi sallaLlahu alaihi wasallam bersabda:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر

Ertinya:Tiap-tiap pekerjaan yang penting-penting jika tidak dimulakan dengan membaca bismiLlahirrahmanirrahim maka pekerjaan itu kurang berkat.

Enam nabi membaca enam kalimah lalu diberikan kepada mereka enam perkara:

1)Nabi Adam telah membaca “AlhamduliLlah” lalu mendapat rahmat Allah.Allah menjawab ucapan baginda yang tersebut dengan firmanNya : ربك يرحمك (Yarhamuka Rabbuka) yang bererti Tuhan merahmatimu.

2)Nabi Nuh telah membaca : بِسْمِ اللَّـهِ مَجْرَ‌اهَا وَمُرْ‌سَاهَا lalu mendapat keselamatan dari kekelaman.

3)Nabi Ibrahim telah membaca :حسبي الله lalu diselamatkan daripada api Namrud.Firman Allah:

قُلْنَا يَا نَارُ‌ كُونِي بَرْ‌دًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَ‌اهِيمَ

Ertinya: "Hai api, jadilah engkau sejuk serta selamat sejahtera kepada Ibrahim! ".( Al Anbia 21:69)

4)Nabi Ismail telah membaca: سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِ‌ينَ lalu ditebus darahnya dengan tebusan kibasy.Firman Allah:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Ertinya: Dan Kami tebus anaknya itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar (As Saffat 37:107)

5)Nabi Musa telah membaca: لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم lalu dapat menghafaz kitab Taurat.Firman Allah:

فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ

Ertinya: Terimalah dia (dan amalkanlah wahai Musa) dengan bersungguh-sungguh, (Al A’raf 7:145)

6)Nabi Sulaiman membaca: إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ lalu disempurnakan kerajaannya.

Maka diharapkan bagi orang-orang yang beriman itu apabila mengekalkan membaca bismillahirrahmanirrahim diberikan kebajikan dunia dan akhirat. “Bismi” itu tiga hurufnya yaitu ‘ba’ , ‘sin’ dan ‘mim’. ‘Ba’ itu isyarat Baqa uLlah yakni kekal Tuhan sekelian alam. ‘Sin’ itu isyarat Salamun ‘alal mukminin yakni kesejahteraan atas sekelian orang yang beriman. ‘Mim’ itu isyarat Mahabbah yakni kasih bagi sekelian orang-orang yang arif.Adapun pada lafaz الله itu terdapat rahsia yang tidak ada pada nama-nama yang lain.Apabila digugurkan alifnya tinggal للهyaitu nama Allah yang sempurna.Apabila digugurkan lam yang pertama tinggal له isyarat kepada له ما في السموات والأرض yakni kepunyaanNyalah langit dan bumi ini dengan sekelian isi-isinya.Apabila digugurkan lam yang kedua tinggallah هُ isyarat kepada وهوالعلي العظيم yakni Dialah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Tersebut di dalam sebuah khabar tidak seorang pun yang kembali ke rumahnya melainkan diikuti oleh syaitan.Apabila ia masuk ke rumahnya dengan membaca bismiLlahirrahmanirrahim berkatalah syaitan “Tiada jalan bagiku memasuki rumah ini” Apabila dia mengambil makanan dengan membaca bismiLlahirrahmanirrahim berkata syaitan “Tiada jalan bagiku untuk memakan makanan ini” Apabila dia minum dengan membaca bismiLlahirrahmanirrahim berkata syaitan “Tiada jalan bagiku untuk meminum minuman ini” Apabila dia tidur dengan membaca bismiLlahirrahamnirrahim berkata syaitan “Tiada jalan bagiku untuk tidur di sini” Tetapi jikalau seseorang itu meninggalkan membaca bismiLlah ketika masuk ke rumahnya maka masuklah syaitan bersama-sama dengannya ke dalam rumah.Demikian juga apabila seseorang itu makan dan minum dengan tidak membaca bismiLlah,maka makan dan minumlah syaitan bersamanya.Begitu juga apabila seseorang itu menjimak isterinya dengan tidak membaca bismiLlah maka syaitan pun akan turut bersama-sama menjimak isterinya.Firman Allah subhanahu wataala:

وَشَارِ‌كْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُ‌ورً‌ا

Ertinya: Dan turut - campurlah dengan mereka dalam menguruskan harta-benda dan anak-anak (mereka); dan janjikanlah mereka (dengan janji-janjimu)". Padahal tidak ada yang dijanjikan oleh Syaitan itu melainkan tipu daya semata-mata. (Al Isra 17:64)

Adalah dihikayatkan bahawasanya syaitan yang gemuk berjumpa dengan syaitan yang kurus.Berkata syaitan yang gemuk “Mengapakah aku lihat engkau begitu kurus sekali?” Maka jawab syaitan yang kurus “Kerana aku telah dikalahkan oleh seseorang.Dia sentiasa membaca bismiLlahirrahmanirrahim ketika keluar rumah,ketika masuk rumah ,ketika makan dan ketika minum menyebabkan aku lari daripadanya” Kemudian dia berkata kepada syaitan yang gemuk “Mengapakah aku lihat engkau ini gemuk –gemuk sahaja?” Jawab syaitan gemuk “Kerana aku sentiasa mengalahkan seseorang.Dia masuk ke rumahnya tanpa membaca bismiLlahirrahmanirrahim.Apabila makan dan minum juga dia tidak membaca bismillahirrahmanirrahim sehingga aku makan dan minum bersamanya.Malah aku menunggang di atas tengkuknya seperti menunggang binatang”

Adalah diceritakan bahawa Abu Muslim Al Khawalani mempunyai seorang hamba perempuan.Hamba perempuan itu menaruhkan racun ke dalam makanan dan minumannya tapi sedikitpun tidak memberi mudharat kepadanya.Akhirnya hamba perempuan itu berkata “Sudah lama aku memberi engkau racun tetapi mengapakah racun itu tidak memberi mudharat kepadamu?” Kta Abu Muslim “Mengapa engkau meracuni ku?” Perempuan itu berkata “Kerana engkau telah tua bangka tapi masih tidak mahu memerdekakanku” Abu Muslim berkata “Adalah aku setiap kali makan dan minum aku membaca bismiLlahirrahmanirrahim.Itulah sebabnya racun tidak memberi mudharat kepadaku dengan berkat bismillahirrahmanirrahim”

Menurut sebahagian ulama Allah subhanahu wataala telah memuliakan dengan bismiLlahirrahmanirrahim ini dari awalnya hingga akhirnya atas tiga orang sahaja.Yang pertama kepada nabi Adam alaihissalam.Adalah sewaktu baginda diturunkan di atas dunia ini di dalamnya penuh dengan racun yang dapat membunuh.Lalu baginda diberikan bismiLlahirrahmanirrahim sebagai penawar sehingga selamat dari racun.Di samping itu baginda diberikan kerajaan di dalam dunia ini seluruhnya dari timur hingga ke barat.Tatkala wafat nabi Adam alaihissalam dikembalikan bismiLlahirrahmanirrahim itu kepada khazanahnya sehingga ketika Nabi Nuh alaihissalam menaiki bahtera baginda hanya membaca “bismiLlahi majreha wa mursaahaa” bukan bismiLlahirramanirrahim.Kemudian pada zaman Nabi Sulaiman bin Daud Allah Taala telah mengurniakan kepada baginda kerajaan yang meliputi dari timur hingga barat.lalu diperintahkan Jibril supaya masuk ke dalam syurga untuk mengambil “Khatim Khilafah” (Berupa cincin)untuk diberikan kepada Nabi Sulaiman.Jibril pun masuk ke dalam syurga dan mengambil khatim khilafah tersebut.Khatam tersebut terlalu hebat seperti bintang yang cemerlang dan seperti kilat yang menyambar dan harumnya seperti kasturi yang tersangat harum.Ianya diperbuat daripada emas yang merah dan permatanya adalah daripada yakut yang merah.Ketika Jibril membawanya ,tidak lalu ia atas batu dan tanah yang keras melainkan kesemuanya membaca “Subhanaka Ya Rabbana (Mahasuci Engkau wahai Tuhan Kami) apakah bau yang sangat harum ini” Lalu Jibril mengatakan “Inilah khatim khilafah yang Allah hadiahkan kepada Nabi Sulaiman alaihissalam” Adalah di atas khatim itu tersurat pada baris yang pertama بسم الله الرحمن الرحيم (BismiLlahirrahmanirrahim ertinya Dengan nama Tuhan Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih) dan pada baris yang kedua لا إله إلا الله (Laa Ilaaha illaLlah ertinya Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya melainkan Allah) dan pada baris yang ketiga محمد رسول الله (MuhammadurrasuluLlah ertinya Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah).Ketika Jibril membawa khatim khilafah tersebut gemparlah para malaikat dengan tasbih dan taqdis dan bertanya kepada Jibril “Wahai Jibril!Kemuliaan apakah ini? Jawab Jibril “Inilah kemuliaan yang diberikan kepada NabiNya Sulaiman alaihissalam dan diberikan kepada nabi Sulaiman juga ilmu memahami percakapan burung-burung”.Adapun khatim tersebut diberikan kepada Nabi Sulaiman pada hari Jumaat 27 haribulan Ramadhan.Ketika Jibril memberikannya kepada Nabi Sulaiman ia berkata “Tahniah bagimu wahai Nabi Allah! Kerana mendapat kemuliaan dan hadiah ini.Hendaklah engkau pakai di tanganmu yang kanan dan jangan engkau pakai melainkan dalam keadaan bersuci.Sesungguhnya ia ini adalah khatim khilafah” Lalu Nabi Sulaiman pun memakai khatim khilafah tersebut dan baginda pun sujud kepada Allah dan sujud juga sekelian orang-orang yang berada di sekitar baginda dari kalangan kaum Bani Israil.Apabila mereka semua mengangkat kepala ,mereka tidak kuasa untuk memandang ke arah Nabi Sulaiman kerana nur dan kehebatan khatim (cincin) tersebut.Lalu Nabi Sulaiman bersabda “Hendaklah kalian mengucapkan Laa ilaaha illaLlah MuhammadurrasuluLlah” Lalu mereka pun mengucapkan dan barulah mereka dapat memandang kepada baginda.Adapun cincin tersebut apabila pada waktu malam kelihatan terang benderang seperti terangnya api pada pelita.Kemudian apabila wafat nabi Sulaiman dikembalikan lagi kalimah bismiLlahirrahmanirrahim kepada khizanahnya sehinggalah sampai kepada zaman Nabi Muhammad sallaLlahu alaihiwasallam yang mana baginda telah diutus untuk seluruh alam samada jin atau manusia.Baginda juga telah dimuliakan dengan diturunkan kalimah ini.Tetapi diturunkan kalimah ini tidak dengan sekaligus sebaliknya sedikit demi sedikit dan di dalam waktu yang berlain-lainan.Adalah pada permulaan Islam para sahabat apabila menyurat mereka hanya menuliskan bismikaLlahumma (dengan namamu Ya Allah).Sehinggalah apabila turun ayat Al Quran :

قُلِ ادْعُوا اللَّـهَ أَوِ ادْعُوا الرَّ‌حْمَـٰنَ

Ertinya: Katakanlah (wahai Muhammad): "Serulah nama " Allah" atau nama "Ar-Rahman",(Al Isra 17:110)

Barulah mereka menulis dengan bismiLlahirrahman.Kemudian apabila turun ayat Al Quran:

إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

Ertinya: Sesungguhnya surat itu dari Nabi Sulaiman, dan kandungannya adalah bismillahirrahmanirrahim (An Naml 27:30)

Barulah dituliskan bismiLlahirrahmanirrahim.Ini mengambil masa selama sepuluh tahun.

Amru bin Ma’di karib telah berkata kepada Sayidina Umar bin Al Khattab radhiaLlahu anhuma “Tidakkah aku khabarkan kepadamu tentang keajaiban bismiLlahirrahmanirrahim? Ketika aku sedang berjalan-jalan di suatu padang daku telah melalui sebuah mahligai yang amat teguh.Di pintu ,duduk seorang tua di samping seorang hamba perempuan yang sangat cantik jelita.Aku pun berkata kepada diriku:Lebih baik aku bunuh lelaki tua itu dan aku rebut hambanya.Adalah pada ketika itu aku masih lagi kafir.Aku pun mendekatinya ,dengan pedang terhunus tetapi lelaki tua itu hanya mentertawakan aku.Aku berkata:Engkau mentertawakan aku? Dia berkata:Apakah yang engkau kehendakki?Kalau engkau berkehendak kepada makanan akan kami beri makan.Jika tidak,pergilah dari sini. Aku pun menjawab:Aku tidah mahu makan dan aku tidak akan pergi! Aku hanya mahu membunuhmu! Lalu orang tua tersebut masuk ke dalam mahligainya dan keluar semula dengan membawa sebilah pedang yang lebih besar daripada pedangmu ini(Umar).Ketika itu ia hanya berjalan kaki dan adalah aku sebagai orang Arab, aku malu untuk membunuh orang yang sedang berjalan kaki.Lalu aku turun dari kudaku.Aku berkata kepadanya:Tunggulah!Aku turun dari kudaku.Lalu aku pun bertarung dengannya.Ketika itu dia menggerakkan bibirnya membaca sesuatu.Akhirnya dia menjatuhkan daku dan duduk di atas dadaku. Sambil memegang janggutku dia berkata kepada hamba perempuannya:Ambilkan pisau!Aku akan menyembelih orang ini.Hambanya mengambilkannya sebilah pisau dan diletakkannya di atas halkumku.Maka aku berkata:Ampunkanlah daku. Dia berkata:Aku mengampuni kamu.Jika kamu menghendakki makanan akan kami berikan makanan.Jika tidak hendaklah kamu pergi dari sini. Namun aku sedikit pun tidak menjawab kerana merasa malu.Aku pun berlalu dari situ hanya dengan sedikit langkah kemudian aku berpaling semula dan terus menyerangnya semula dan kami bertarung lagi.Kali ini dia mengggerakkan bibirnya sekali lagi dan dengan mudah dia menghempaskan aku ke tanah dan duduk di atas dadaku.Aku kemudian berkata:Maafkanlah aku..Dia berkata:Aku akan memaafkan kamu.Jika kamu menghendakki makanan akan kami berikan makanan ,jika tidak pergilah dari sini.Aku pun berjalan beberapa langkah tetapi kemudian aku berpaling semula dan menyerang kembali dengan pantas dan sekali lagi bertarung dengannya.Sekali lagi dia menggerakkan bibirnya dan dengan mudah dia menghempas aku ke tanah dan dduduk di atas dadaku.Aku berkata kepadanya :Maafkanlah aku. Tetapi dia menjawab :Tidak!Melainkan dengan syarat kepalamu ku cukur.Maka kepalaku pun dicukur dan jadilah aku hambanya.(Kerana adat orang Arab jika seorang lelaki itu jatuh ke tangan seorang yang lain kemudian dicukur kepalanya jadilah dia hamba kepada orang yang mencukur kepalanya itu).Lalu aku tinggal berkhidmat kepadanya selama beberapa masa.Akhirnya aku berkata kepadanya:Wahai tuanku!Adalah aku ini orang muda sedangkan engkau adalah seorang yang telah tua tetapi bagaimana tuan dapat mengalahkan aku?Aku yakin bahawa tuan tidak akan mampu mengalahkan aku melainkan aku lihat tuan menggerakkan bibir membaca sesuatu.Apakah sebenarnya yang tuan baca bolehkah tuan ajarkan kepada saya? Dia menjawab:Aku tidak akan mengajarkan kepadamu melainkan engkau mesti memeluk Islam terlebih dahulu dan kemudian aku memerdekakan engkau. Lalu aku pun masuk Islam. Tuanku itu pun memberitahukan rahsianya kepadaku dengan mengatakan :Setiap kali aku akan berlawan dengan seseorang aku bacakan bismiLlahirrahmanirrahim.Tidak lama kemudian dia meninggal dunia.Adapun aku pula berkawin dengan anaknya dan mewarisi segala peninggalannya.Inilah yang nyata bagiku akan keberkatan bismiLlahirrahmanirrahim itu” Demikianlah Amru mengakhiri ceritanya.Ya Allah!Jadilkanlah kami semua daripada ahli bismiLlahirrahmanirrahim dan daripada umat Nabi Muhammad sallaLlahu alaihi wasallam Ya Karim!

Sumber:JAM'UL FAWAID WA JAWAHIRUL QALAID OLEH SYAIKH DAUD BIN ABDULLAH AL FATTANI